fbpx
OPINI  

Simpang Itu (Tidak) Mesra Lagi

Muhibuddin Hanafiah. (Dok.Pribadi)

KABARANDALAN.COM, BANDA ACEH – Mahasiswa kampus “jantoeng hate rakyat Atjeh” Darussalam era tahun 70-an hingga 90-an yang kini telah menjadi orang tua dan menitipkan anak-anak mereka kembali ke Darussalam diyakini masih sangat ingat dengan ikon dan kisah romen di “Simpang Mesra”.

Sayang mahasiswa Darussalam era 2000-an tidak lagi mengetahui apalagi merasakan bagaimana kemesraan di simpang itu. Kini nama simpang itupun lebih dikenal sebagai simpang Tugu Tentara Pelajar. Demikian juga sang robur (bus mahasiswa) yang dahulu sangat populer di kalangan mahasiswa kini telah “almarhum”, jasadnya entah dimana sekarang.

Tentu saja kemesraan di simpang itu tidak ada lagi, seiring dengan zaman dan perubahannya. Mahasiswa era melinial sekarang harus mencari kemesraan di cafe-cafe di kawasan kota Banda Aceh dan sekitarnya. Namun kemesraan yang dirasakan oleh mereka sekarang tentu tidak sama mahasiswa era robur dahulu.

Substansi makna dari ikon “Simpang Mesra” sebenarnya bukan pada ulah sang supir gaek bus robur putih dan hijau itu, atau ulah sang kondektur yang dengan teriakannya “pak supir, simpang mesra, banting stir sekali” sehingga memancing sang supir untuk memutar setir bus sedikit seksi sesampainya di simpang itu, atau pada kenakalan mahasiswa yang sengaja merapatkan diri pada mahasiswa yang berdiri berhimpit-himpitan di tengah gang bus robur, atau pada teriakan histeris mahasiswi yang terperah oleh badan si mahasiswa, atau juga pada galak tawa mahasiswa yang merasakan nikmat sesaat akibat bus yang sedikit oleng karena belokan yang sedikit ekstrem sesampainya di simpang itu.

Akan tetapi, kemesraan yang hakiki adalah lebih pada ruh “tanah kedamaian” (dar al-salam) itu sebagai tempat yang damai, nyaman, adem, sejuk, harmoni, tulus ikhlas, tenang dan penuh persaudaraan dan persahabatan antar sesama warga dan penghuni di tanah itu.

* Kehilangan ruh

Sekarang ruh kedamaian dan kebersamaan di tanah kedamaian itu tidak dirasakan lagi. Karena telah diganti dengan kecurigaan, penguasaan, penggusuran, dan tindakan sepihak untuk mengambil alih bidang-bidang tanah yang selama ini digunakan bersama tanpa ada sekat, pagar, tembok, atau pembatas lainnya.

Baca Juga:  Penting-nya Organisasi Bagi Mahasiswa

Akibatnya, muncul rasa ketidaknyamanan, keterusikan, kekhawatiran, kewaspadaan, dan kehantuan akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terhadap warga gampoeng Darussalam khususnya yang notabene mereka menetap (berumah) di sini.

Demikian juga perasaan yang sama dialami oleh kampus tetangga yang selama ini telah bersama-sama membangun mercusuar pendidikan tinggi Aceh di tanah Darussalam.

Konon lagi kampus kakak beradik yang satu lagi (Dayah Manyang Tgk Chiek Pante Kulu) telah lama tersisih dari percaturan tiga serangkai perguruan tinggi pertama di era Aceh modern. Akankah Ar-Raniry harus angkat kaki dari tanah perdamaian ini ? Dan kemudian tinggalkan sang Kakak seksi sendirian melakukan aksi one man show di tanah yang dahulunya diperuntukkan bersama? Waktulah yang akan menjawabnya kelak, ke mana saudara yang kelihatan lemah ini harus hijrah..

Sejarah “Kuta” (Gampoeng) Pelajar dan Mahasiswa atau Kopelma Darussalam merupakan ending dari konflik politik (DII/TII) di pertengahan dekade tahun 1950-an antara Aceh dan Jakarta. Akhir dari genjatan senjata itu para tokoh Aceh waktu itu sepakat mendirikan Darussalam sebagai pusat pendidikan tinggi di Aceh.

Mereka melakukan peralihan kondisi Aceh yang sarat konflik ke era perdamaian atau dari era Dar al-harb ke era Dar al-salam. Pasca “turun gunung” itulah tanah Darussalam ini dibangun sebagai pusat pendidikan modern di Aceh.

Berdirilah tiga perguruan tinggi yang mewakili kekhasan masing-masing di sini. Universitas Syiah Kuala dengan kekhasan pendidikan tinggi umumnya, IAIN Ar-Raniry dengan pendidikan modern keagamaannya dan Dayah Manyang Tgk Chiek Pantekulu dengan sistem pendidikan tradisionalnya..

Sekali lagi Kopelma Darussalam dibangun sebagai semangat memajukan pendidikan dan peradaban rakyat Aceh agar tidak tertinggal dari kemajuan dan kemakmuran, bukan untuk kembali berkonflik seperti yang dilakoni sekarang.

Baca Juga:  Diduga Cermari Lingkungan dan Serobot Lahan Warga, AP2L Minta Bupati Nagan Raya Evaluasi Izin PT KIM

Jadi yang dinamakan kampus Darussalam sebenarnya adalah tiga institusi pendidikan tinggi tersebut. Ketiganya dibangun di atas satu lahan bersama yang saling menempati tanpa kluster yang saling memisahkan. Tidak ada pengklapingan kepemilikan satu di atas yang lain.

Di wilayah yang didominasi gedung Unsyiah ada asrama mahasiswa UIN Ar-Raniry di sektor Timur Darussalam, ada masjid Jamik bersama, ada rumah dosen UIN Ar-Raniry, ada asrama putri IAIN Ar-Raniry di sektor Tengah, dan malah di lokasi gedung AAC Unsyiah sekarang sebelumnya berdiri Fakultas Adab IAIN Ar-Raniry.

* Pikir ulang tindakan itu

Namun mengapa sekarang keadaan menjadi lain? Semua gedung bangunan dan lembaga yang bukan dikelola Unsyiah di dalam wilayah kampus Darussalam harus dikosongkan dan penghuninya harus angkat kaki seperti pecundang yang kalah perang. Memang ada informasi dari sejumlah rekan yang bekerja di Unsyiah memberitahukan bahwa saat ini Unsyiah sedang sangat terdesak dengan sistem pengelolaan keuangan mandiri (BLU).

Kisruh soal sertifikasi dosen dan remonurasi dosen dan karyawan yang belum terpenuhi target maksimal membuat pimpinan kalang kabut dan sedikit panik. Akibatnya “kebijakan” potong kompas terpaksa diambil sesegera mungkin untuk menstabilkan suasana kerja di kampus.

Ironinya, pilihan jatuh pada relokasi sejumlah gedung dan bangunan seperti perumahan dosen di sektor Timur dan Tengah, asrama putri UIN Ar-Raniry, dan beberapa gedung lainnya akan disulap sebagai lokasi bagi unit-unit bisnis yang bisa mengasapkan dapur BLU Unsyiah, wa Allahu a’lam.

Dalam situasi seperti ini masih relevankah kita berbicara soal kemesraan yang di masa dahulu dirasakan bersama? akankah kemesraan masih bisa dihadirkan atau dipertahankan di masa hadapan ? Nampaknya sangat sulit terjadi, manakala nafsu dan birahi bisnis harus segera terwujud di dalam kawasan kampus yang semakin terasa sempit ini.

Jika pola pikir membangun pusat-pusat bisnis cuma di dalam kawasan kampus yang kelihatannya sangat dipaksakan, maka kemesraan tinggallah kenangan bagi generasi Darussalam di masa hadapan. Hidup semakin individualis dan hegemoni pulus telah menginjak tali persaudaraan sekandung yang dahulu hidup serumah secara damai dan mesra.

Baca Juga:  Sejarah Kemerdekaan Indonesia di Tengah Rimba

“Pak Sopir, mesra sigeu! kini tak akan terdengar lagi dari kondektur bus Robur. Karena di kampus ini tidak ada lagi “spirit mesra”, tapi yang ada hanyalah spirit perkara, spirit meupake sesama syedara, spirit meudawa meusunoh tanoh pusaka. Pakeun han ta meuget-geut sesama syedara, taduek beu mangat sama-sama di ateuh tika, pasti segala perkara na jalan keluwa.

* Menepis ironi Darussalam

Inilah ironi Kopelma Darussalam dewasa ini setelah lebih kurang 70 tahun hidup rukun bersama dengan sangat mesra, yang tidak saja antar mahasiswa di Simpang Mesra melainkan segenap civitas akademika lainnya menjalin kemesraan dalam ikatan silaturrahmi yang kental sebagai punggawa di seluruh sagoe tanah perdamaian, baik yang sedang didiami oleh Syekh Nuruddin Ar-Raniry, Syaikh Abdurrauf Syiah Kuala dan Tgk Chiek di Pantekulu.

Cukup sudah kita memperebutkan tanah sempit yang luasnya hanya 181,3 hektar. Jika belum cukup atas 145 ha, 30 ha dan kurang dari 1 ha, maka carilah di luar wilayah Kopelma ini. Apakah ke Janthoe, Cot Lame, Indrapuri atau ke kawasan Krueng Raya sana.

Allah masih menyediakan lahan yang luas di nanggroe yang mulia ini asalkan digunakan untuk menjalankan fungsi kekhalifahan (khalifatullah) di bumi. Kita rindu pada labi-labi dan robur mahasiswa yang hilir mudik mengantar mahasiswa kuliah ke kampus dan menjemput pulang mahasiswa dari aktivitas kuliah di Darussalam.

Kami rindu pada teriakan kondektur labi-labi yang berteriak salam, salam, salam. Kami rindu pada teriakan mahasiswa senior di dalam robur ketika sampai di simpang itu, “Pak Sopir be mesra sigeu….! Namun semua peristiwa itu tlah tersimpan sebagai kenangan yang tak terlupakan.

Penulis : Muhibuddin Hanafiah, Akademisi Darussalam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *