fbpx
OPINI  

Sejarah Kemerdekaan Indonesia di Tengah Rimba

Oleh : Ikmal Gopi

KABARANDALAN.COM, REDELONG – Perayaan ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-75 tahun, kondisi keadaan ekonomi global dihadapkan pada resesi dampak dari wabah virus Covid 19. Situasi ekonomi ini persis seperti pada saat masa revolusi fisik Agresi Militer Belanda ke II tahun 1948. Berdasarkan pengakuan seorang saksi sejarah di Yogyakarta bahwa pada saat itu keadaan masyarakat untuk memenuhi sandang dan pangan sangat sulit, kecuali masyarakat yang memiliki kedekatan dengan penjajah Belanda.

Almarhum TA Talsya menggambarkan kesulitan masyarakat Yogyakarta pasca ibukota tersebut dikembalikan ke pemerintah Indonesia oleh Belanda melalui perjanjian Roem-Royen. Talsya menyebutkan rakyat Aceh menyumbangkan kebutuhan masyarakat Yogyakarta berupa kebutuhan pokok seperti pakaian dan makanan yang diangkut oleh pesawat Indonesian Airways RI 001 termasuk obat Panglima Besar Jenderal Soedirman dikirimkan dari Aceh melalui Singapura.

Sejarah perjuangan Bangsa Aceh ketika menghadapi Belanda adalah bermula dari konflik perebutan hasil pertanian. Pihak Belanda berkoalisi dengan Inggris dan menandatangani perjanjian “Traktat London” tahun 1871. Salah satu isi dari perjanjian tersebut adalah Inggris memberi peluang kepada Belanda untuk menginvasi Aceh dengan kekuatan militer.

Sebagai kompensasi Belanda menyerahkan koloninya “Gold Chost” (Sekarang Ghana) kepada Inggris. Hasil dari perjanjian tersebut jelas merugikan Aceh, karena Belanda dibolehkan menguasai Aceh, mengatur dagang Lada, dan menerapkan pajak ekspor.

Akhirnya perang tidak dapat dielakkan, Belanda mengeluarkan maklumat perang kepada bangsa Aceh Tahun 1873. Untuk diketahui, perang di Aceh terjadi hingga empat kali, pertama dimulai tahun1873 kemudian tahun 1874 – 1880, dan tahun 1884 – 1896 dan terakhir tahun 1898 – 1942.

Baca Juga:  Samsuardi alias Juragan akan maju sebagai Bupati Nagan Raya di Pilkada 2022

Letnan Jenderal G.C.E Van Daalen yang terkenal kejam, pada tahun 1914 mencoba menaklukkan Tanah Gayo dan Tanah Alas, berdasarkan hasil penelitian Snouck Hurgronje, tentara Belanda mendapatkan pengetahuan tentang kondisi lembah dan gunung di sekitar Gayo. Pertempuran hebat terjadi dan banyak jatuh korban dari kalangan pejuang Gayo. Sebanyak 2.902 orang tewas , 1.159 diantaranya perempuan dan anak – anak. Di pihak Belanda kehilangan 26 Serdadu yang mati dan 70-an serdadu terluka (Sumber Majalah Tempo 2003).

Setelah Jepang masuk 1942, Belanda angkat kaki dari tanah Aceh. Tiga tahun berselang pecah perang dunia ke II, kota Nagasaki dan kota Hiroshima dibom oleh Amerika. Di Indonesia tepatnya 17 Agustus 1945, Soekarno – Hatta atas nama bangsa Indonesia memproklamirkan Kemerdekaan.

Belanda yang menang perang atas nama sekutu ternyata ingin kembali menduduki Indonesia. Dua tahun kemudian terjadi Agresi militer Belanda I pada tanggal 21 Juli 1947 hingga puncaknya 19 Desember 1948. Ibu kota Republik pada masa itu di Jogjakarta jatuh ketangan Belanda. Pemimpin Indonesia Soekarno, Hatta, Agus Salim, Syahril dan yang lainnya ditangkap Belanda dan dibuang ke Prapat, Pulau Bangka. Panglima Besar Jendral Sudirman dan pasukannya bergerilya ditengah hutan. Di Bukit Tinggi Lahirlah PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) yang dipimpin oleh Presiden Safruddin Prawiranegara.

Belanda mengatakan kepada seluruh Dunia Bahwa Indonesia sudah habis, Indonesia sudah tidak ada lagi, Indonesia sudah Bubar.

Aceh sejak agresi militer Belanda I tahun 1947 hingga Agresi militer Belanda II tahun 1948 tidak bisa dimasuki oleh Belanda. Belanda hanya menguasai dan pertempuran hanya terjadi di kota Medan, Peristiwa long march Rakyat Aceh menuju Medan dan pertempuran yang terjadi sering kita dengar dengan sebutan Perang Medan Area.

Baca Juga:  Simpang Itu (Tidak) Mesra Lagi

Dendam Bangsa Aceh masa lalu terhadap Belanda yang menjajah dan melakukan pembantaian yang tidak berperikemanusiaan seperti di Kuto Reh dan tempat lainnya membuat semangat rakyat Aceh untuk melawan Belanda sejak pra kemerdekaan tidak pernah padam ditambah lagi Fatwa Ulama seluruh Aceh tentang Jihad Fisabilillah menambah semangat bangsa Aceh semakin membara untuk mengusir penjajah Belanda.

Radio Divisi X yang lebih kita kenal sekarang Radio Rimba Raya yang daerahnya dahulu dinamakan Tanoh Ilang ( Tanah Merah ) sekarang menjadi kampung Pintu Rime Gayo, kabupaten Bener Meriah membantah semua propaganda Belanda yang mengatakan Indonesia habis, Indonesia sudah tidak ada lagi.

Peran radio pada masa itu sangat vital karena memberitakan peristiwa – peristiwa perang, politik luar negeri maupun dalam negeri yang terjadi di Jawa maupun Sumatera, sebab tanpa radio diibaratkan manusia tidak bisa mendengar bahkan melihat.

Peran penting Radio Rimba Raya untuk melawan propaganda – propaganda Belanda menjadi sangat strategis. Pentingnya sebuah perangkat radio pada masa itu, tidak kalah pentingnya dengan internet, televisi maupun media social pada masa kini. Sebagai media komunikasi, pembentuk opini, penyampai informasi dan sebagainya.

Radio Rimba Raya setiap hari mengudara untuk memberitakan peristiwa yang terjadi di medan perang ke seluruh dunia dan dipantau oleh perwakilan-perwakilan Indonesia di dunia, Sinyal Radio Rimba Raya juga dapat ditangkap oleh Radio Pesawat Indonesian Airways RI 001 (cikal bakal Garuda Indonesia) yang sedang berada di Burma. Agresi Militer Belanda ke II menyebabkan pesawat tersebut tidak dapat kembali ke Indonesia.

Baca Juga:  Pemuda Pancasila Nagan Raya Layangkan Protes Terhadap Perekrutan Tenaga Kerja Oleh Pt Mpg

Serangan Umum 1 Maret 1949 di ibukota Jogjakarta, 6 Jam TNI menguasai Yogyakarta adalah puncak dari perang kemerdekaan. Berita serangan ini dikabarkan lewat radio angkatan udara yang berada di Gunung Kidul, disampaikan lewat telegraf ke radio di Sumatera barat hingga sampai ke Aceh.

Berita tentang Serangan Umum 1 Maret 1949 yang disiarkan oleh Radio Rimba Raya ke seluruh dunia ini, menyebabkan posisi tawar dan politik Belanda di dunia menjadi lemah sehingga pada akhirnya Belanda melunak dan mau kembali ke meja perundingan. Pada tanggal  14 April 1949 dimulai perundingan Roem Royen  dan ditandatangani pada tanggal 7 Mei 1949 di Hotel Des Indes, Jakarta.

Hasil dari perundingan Roem – Royen adalah Angkatan bersenjata Indonesia akan menghentikan semua aktivitas gerilya, Pemerintah Republik Indonesia akan menghadiri Konferensi Meja Bundar, Pemerintah Republik Indonesia dikembalikan ke Yogyakarta, Angkatan bersenjata Belanda akan menghentikan semua operasi militer dan membebaskan semua tawanan perang.

Pada tanggal 13 Juli 1949 Presiden Pemerintah Darurat Repulik Indonesia ( PDRI ), Syafruddin Prawiranegara menyerahkan kembali mandat negara ke Soekarno. Hingga terselenggara Konferensi Meja Bundar Di Den Haag Belanda yang berakhir tanggal 27 Desember 1949. Belanda Menyerahkan kedaulatan kepada Indonesia.

Sebagai penutup, seorang Filosuf Romawi “Cicero” didepan senat Romawi sebelum Masehi mengatakan “ Jika Kita Tidak tahu apa yang terjadi sebelum kita lahir, berarti kita tetap anak kecil”

Penulis : Ikmal Gopi – Sutradara, Periset Sejarah Perjuangan Radio Rimba Raya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *