fbpx

Perjuangan Mahasiswa | Silakan Berdebat dan Berselisih Paham dengan Semua Orang, Kecuali Dengan Pembimbing

KIAT MENULIS DISERTASI (Sebuah Pengalaman Pribadi)

Oleh : Assoc. Prof. Dr. T.M. Jamil TA, M.Si
Biasanya ada pertanyaan dari mahasiswa pada saya, “Pak TM, penelitian apa yang paling bagus?”, maka saya Akan menjawabnya, penelitian yang bagus adalah “penelitian yang bisa diselesaikan.”

KABARANDALAN.COM – Sebaik apapun disertasi yang kita tulis, namun kalau pembimbing tidak menyetujui, maka artinya hasil tulisan tersebut tetap akan sia-sia.

Sebagai salah satu faktor penentu, maka kata teman saya “Silahkan berdebat dan berselisih paham dengan semua orang, kecuali dengan pembimbing.” Ini menunjukkan bahwa, kita cukup dan wajib dengarkan pembimbing. Kedatangan kita ke kampus untuk belajar semata-mata memang karena kebodohan kita. Bukan karena kepintaran lalu kita datang untuk menempuh pendidikan doktor.

Dengan demikian, ketika kita datang dan menyatakan diri bodoh, maka apapun yang datang dari pembimbing kita terima dengan senang hati. Jika mau protes dan berdebat, sabar saja dulu. Nanti jika sudah doktor, berdebatlah dengan mereka.

Kadang-kadang menulis laporan entah itu skripsi, tesis atau disertasi semuanya selalu saja perlu waktu yang lama. Bahkan ketika menulis skripsi jargonnya adalah “susah”. Ini sangat berkaitan dengan cara pandang bahwa apapun susah. Belum mencoba, belum menggali ilmunya, sudah terlebih dahulu mengatakan susah.

Itu cerminan diri seseorang yang ‘malas’ dan ingin selalu dalam hidupnya serba ‘instan’ dan tanpa harus bersusah-susah. Kebetulan, Siang ini saya ketemu dengan mahasiswa yang lagi giat-giatnya menulis disertasi.

Dalam pertemuan itu saya mencoba berbagi pengalaman dalam menyelesaikan disertasi saya.

Pertama, setiap semester cukup selesaikan satu bab. Jatah yang diberikan oleh kampus ketika menempuh pendidikan doktor selama 3 tahun minimal. Artinya, dengan disertasi yang berisi enam bab, selama tiga tahun dapat diselesaikan. Kita tidak bisa mengambil liburan, pergi seminar, bersosialisasi jika belum menyelesaikan satu bab. Di awal semester, buat janji dengan pembimbing atau promotor.

Jadwal yang disepakati itu kemudian menjadi sarana untuk berdiskusi dan menyetorkan halaman demi halaman yang sudah ditulis. Adapun target pertemuan minimal 14 kali dalam satu semester.

Jika satu bab sudah terselesaikan, maka silahkan liburan, termasuk pergi ke luar negeri untuk seminar sekaligus mencari bahan untuk semester berikutnya. Sekedar Untuk diketahu saja : Meskipun setelah Disertasi Saya dulu selesai, namun saya juga belum bisa langsung mengikuti Ujian, dengan berbagai alasan dan sebab.

Sebab bisa saja menyangkut dana, ataupun sulitnya mempertemukan Promotor, Ko-Promotor dan Tim Penguji – Kesemuanya mereka 10 orang dalam waktu yang bersamaan. Pada umumnya mereka adalah insan-insan super sibuk. Namun, kesabaranlah yang membuat kita menjadi seorang Doktor.

Kedua, di waktu libur jangan sentuh sama sekali disertasi. Ketika sudah menyelesaikan satu bab dan pergi liburan, maka biarkan disertasi tetap berada di laptop atau komputer. Ketika kita tetap melanjutkan penulisan, ini akan menimbulkan kebosanan. Di saat semester baru sudah datang, kita akan kehilangan minat lagi dalam menyelesaikan disertasi yang sudah ada. Akibatnya, penyelesaian disertasi akan terlambat lagi.

Ketiga, minta rekan sejawat untuk membaca bab-bab yang kita sudah selesaikan. Ini disamping untuk memenuhi triangulasi data dan penulisan juga akan berguna dalam melihat kekurangan disertasi yang sudah ada itu. Kadang karena kita sehari-hari berkutat dengan disertasi lalu kemudian apa yang ada kita anggap sudah bagus.

Ini tidak akan terjadi bagi kolega kita yang baru membacanya. Untuk itu, kita mesti mendengarkan apa kata pembaca atau kata sahabat kita. Kemudian setelah itu apa yang bisa diakomodasi dalam saran-saran itu, akan lebih meningkatkan mutu penelitian yang dilakukan.

Keempat, ikuti seminar dan presentasikan hasil yang sudah kita capai dalam bentuk makalah. Ketika kita menyampaikan makalah dengan topik penelitian kita, maka pakar ataupun sejawat dari perguruan tinggi lain akan memberikan tanggapan, pertanyaan, masukan dan juga kritikan terhadap penelitian yang kita sampaikan. Ini akan berguna untuk menghimpun literatur, penelitian terdahulu, kajian teoritis dan juga penelitian yang mutakhir dalam bidang berkenaan.

Kelima, back up informasi dan data dalam berbagai bentuk file yang sudah ada. Garis bawahi di sini, beberapa. Artinya, tidak hanya dalam bentuk file di komputer tetapi perlu di flash disk, email, CD, hard disk eksternal, data storage di website gratis, dan juga dalam bentuk print out. Kadang-kadang ada yang terlambat menyelesaikan disertasi karena data yang sudah ada terinfeksi virus atau terhapus.

Kemudian ada juga yang kehilangan laptop. Ada teman saya yang kecurian atau laptopnya hilang, sehingga dia hampir gagal studi. Demikian pula ada yang kehilangan flash disk. Dengan demikian ketika punya beberapa cadangan data selalu saja ada persediaan.

Bahkan ketika kejadian terburuk terjadi, tetap tidak ada kekhawatiran, karena data ada juga di email dan back data di storage website. Maka untuk membedakan antara file yang satu dengan lain perlu diberikan nama file dengan menambahkan tanggal update file tersebut.

Keenam, ini faktor penting. Minta masukan dan arahan dengan pembimbing atau promotor. Jangan sok pintar, selalu berdebat atau menyalahkan pembimbing, dengan mengatakan ; “mereka tidak paham tentang apa yang ingin saya tulis”.

Sombong banget rasanya jika kita bersikap seperti itu. Sebodoh apapun pembimbing, mereka telah menyelesaikan disertasi dan mencapai gelar doktor lho. Ingat, Persetujuan disertasi berada di tangan pembimbing. Sebaik apapun disertasi yang kita tulis, tetapi kalau pembimbing tidak menyetujui, maka artinya hasil tulisan tersebut tetap akan sia-sia.

Sebagai salah satu faktor penentu, maka kata teman saya “silahkan berdebat dan berselisih paham dengan semua orang, kecuali dengan pembimbing.” Ini menunjukkan bahwa, kita cukup dan wajib dengarkan pembimbing. Kedatangan kita ke kampus untuk belajar semata-mata memang karena kebodohan kita. Bukan karena kepintaran lalu kita datang untuk menempuh pendidikan doktor. Dengan demikian, ketika kita datang dan menyatakan diri bodoh, maka apapun yang datang dari pembimbing kita terima dengan senang hati. Jika mau protes dan berdebat, sabar saja dulu. Nanti jika sudah doktor, berdebatlah dengan mereka.

Ketujuh, disertasi hanyalah persyaratan untuk lulus dan menjadi doktor. Ketika kita lulus, maka disertasi adalah permulaan dan bukan akhir. Ini berarti bahwa penulisan disertasi tentu kita ingin sempurna. Tetapi pertimbangkan soal waktu. Sebab biaya juga akhirnya yang akan timbul. Ketika kita memanjangkan waktu penulisan disertasi, maka beban biaya, sosial dan pertanyaan “kapan selesai?” tentu berada di pundak kita.

Apalagi kalau kita studi atas izin pimpinan, maka siap-siaplah jika pimpinan selalu bertanya, kapan selesai studi. Nah, Kalaulah kita ingin melakukan penelitian yang ideal, sempurna dan mau dijadikan sebagai master piece, itu bisa dilakukan setelah lulus doktor. Ketika hambatan tidak ada lagi. Jalan untuk menjadi yang terbaik selalu terbuka kok, jika kita cerdas menghargai diri dan orang lain.

Kedelapan, doktor adalah legalitas kompetensi. Asah terus kemampuan yang melengkapi penulisan disertasi. Pada saat kita belum mencapai gelar doktor, maka mungkin saja ada pintu yang tertutup yang tidak bisa kita masuki. Ini bermakna bahwa ketika kita sudah lulus dari jenjang doktor, maka ada kompetensi yang kita miliki.

Saat menyelesaikan disertasi adalah waktu terbaik untuk mendapatkan latihan dan kemampuan tambahan yang belum kita dapatkan di jenjang master dan sarjana. Penulisan ilmiah, publikasi, penguasaan metode penelitian, penggunaan software seperti end-note, perlu diperhatikan. Agar ketika selesai, maka kita betul-betul mempunyai kompetensi dalam gelar yang dicapai. Upayakanlah agar kita berbeda dengan lulusan S1 ataupun S2.

Terakhir, saat jenuh berada di depan komputer, print out file dan kemudian matikan komputer. Lalu cek disertasi tersebut menggunakan cara manual. Adakalanya komputer membuat mata kita lelah, sehingga susah mengidentifikasi kesalahan penulisan. Biasa pula karena kelelahan, maka apa yang sudah ditulis lalu dianggap sudah baik.

Untuk itu, dengan mengoreksi penelitian dengan cara mencoret bagian tertentu, lalu memberikan catatan apa yang kurang akan membuat kita ketika menghadapi komputer fokus kepada kesalahan-kesalahan yang ada. Dengan cepat kita bisa melihat kesalahan dan memperbaikinya. INGAT : menulis disertasi bukan seperti ‘mengkliping’ lho … Maka jangan pernah mengcopy paste-kan, jika karya tulis kita ingin dihargai dan bernilai akademis.

Demikian catatan yang menjadi pengalaman pribadi, ataupun pengalaman teman ketika sama-sama menempuh pendidikan. Tentu ada yang perlu diambil, dan ada juga yang harus dibuang. Masing-masing individu punya gaya masing-masing untuk memenuhi persyaratan kelulusan. Namun satu hal yang perlu menjadi perhatian dan ini pasti dipenuhi setiap mahasiswa doktoral adalah “kejujuran akademik”.

Beberapa doktor yang ternyata melakukan plagiarisme kemudian dicabut gelar doktornya. Adapula presiden di Eropa yang hanya menerjemahkan karya orang lain dan mencapai gelar doktor, lalu harus menanggung malu kemudian mengundurkan diri dari jabatan sebagai presiden. Begitu juga ada salah seorang Profesor di sebuah kampus ternama di negeri kita, karena menjiplak karya tulis mahasiswanya juga harus mengundurkan diri sebagai dosen. Maka berhati-hatilah.

Ups … Apapun kendalanya maka kita harus mengedepankan standar akademik dalam mencapai kesuksesan dalam pendidikan. Menjadi doktor bukan segala-galanya. Tetapi, kejujuran adalah mata uang yang menjadi modal utama bagi siapapun. Tidak saja dalam dunia pendidikan, tetapi bahkan dalam bidang lain apapun itu. Doktor hanyalah upaya membangun kualitas diri. Ketika kualitas diri tercapai, maka kapasitas yang ada kita gunakan untuk kemaslahatan umat manusia.

Menuntut ilmu secara etika dalam ajaran agama atau kebudayaan apapun selalu adalah jalan mulia. Bahkan dengan ilmulah kita mampu untuk berbuat yang terbaik untuk ummat dan bangsa ini. Camkanlah – Ini menjadi catatan, proses penulisan disertasi atau usaha untuk menjadi tahu dari ketidak- tahuan yang kita miliki. Semoga Artikel ini Bermanfaat Bagi Insan Terdidik. Insya Allah, Aamiin (Salam Takzim, @TM). (*)

(Redaksi/D)

Baca Juga:  Gelar Longmarch dan Aksi Damai, Ratusan Massa Tolak Politisasi Pendidikan Aceh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *