Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
//iklan sarapan pagi
//Example floating
Bola

Pergi Layaknya Seorang Rock Star, 10 Tahun Son di Spurs Kini Berakhir

×

Pergi Layaknya Seorang Rock Star, 10 Tahun Son di Spurs Kini Berakhir

Sebarkan artikel ini

Meninggalkan klub setelah satu dekade bukanlah hal biasa di sepakbola modern. Tapi bagi Son Heung-min, yang kepergiannya dari Tottenham Hotspur telah dikonfirmasi, masa 10 tahunnya di London Utara telah meninggalkan kesan mendalam.

Aura Selebritas dan Senyum yang Menular

“Seperti bersama bintang rock.” Begitulah salah satu staf Spurs menggambarkan pengalaman bekerja dengan Son selama bertahun-tahun. Kehadirannya menciptakan energi yang berbeda.

Example 300x600

“Saat dia masuk ke ruangan, semuanya langsung terang,” kata sumber tersebut kepada BBC Sport. “Senyumnya menular. Dia adalah orang yang sangat rendah hati dan selalu menyapa semua orang, dari petugas kebersihan hingga kepala eksekutif. Dia benar-benar membuat semua orang merasa istimewa.”

Kesopanannya yang terkenal bahkan membuatnya enggan menggunakan kata “Y**” (Y-word – merujuk pada julukan setempat bagi Spurs, Yid) dalam lagu-lagu fans, meskipun dia sangat mencintai dukungan mereka.

Warisan Gol dan Momen Ikonik

Statistik berbicara sendiri: 120 gol di Premier League (menempatkannya di peringkat 14 sepanjang masa), 54 assist, dan menjadi pencetak gol terbanyak Asia dalam sejarah liga. Dia berbagi Sepatu Emas (top scorer) musim 2021-22 dengan Mohamed Salah (23 gol).

Dikutip dari strategi bola, warisannya lebih dari sekadar angka:

  • Gol solo sensasional melawan Burnley yang dinobatkan sebagai Goal of the Season PFA 2020.
  • Kemitraan legendaris dengan Harry Kane – salah satu duo terganas dalam sejarah Premier League (mereka saling meng-assist satu sama lain 47 kali, rekor liga).
  • Kepemimpinan: Diangkat menjadi kapten menggantikan Hugo Lloris musim lalu, dipuji karena kemampuannya menyatukan tim di masa transisi sulit.

Koneksi Spesial dengan Fans

Hubungan Son dengan para pendukung Spurs sangat mendalam. Mereka menyanyikan namanya dengan penuh kasih sayang, dan dia selalu membalasnya dengan dedikasi di lapangan serta apresiasi tulus di luar lapangan.

“Sangat menyenangkan bermain di depan mereka,” kata Son musim lalu. “Mereka menyanyikan namaku bahkan sebelum aku mencetak gol. Mereka memberiku energi untuk terus berlari dan bekerja keras.”

Akhir Sebuah Era

Kepergian Son menandai berakhirnya generasi. Dia adalah penghubung terakhir ke era Mauricio Pochettino dan kesuksesan tim di akhir 2010-an. Bersama Kane, Christian Eriksen, dan Dele Alli, mereka membentuk inti tim yang nyaris juara dan mencapai final Liga Champions.

Kenapa Pergi Sekarang?

Pada usia 33 dan dengan satu tahun tersisa di kontraknya, keputusan untuk pindah ke klub baru (diduga Bayern Munich) adalah kesempatan terakhirnya untuk pengalaman besar di liga top, dengan peluang lebih besar meraih trofi.

Meski dikasihi di Spurs, trofi utama Premier League atau Eropa eluded him selama di N17.

Kenangan Tak Terlupakan

Bagi staf dan fans, kenangan terbesar seringkali adalah interaksi sehari-hari:

  • Selera humornya: “Dia suka becanda dan bercanda, tertawa lepas yang tulus,” kata seorang staf.
  • Kerendahan hati: Tetap menjadi orang yang sama meskipun menjadi superstar global.
  • Dedikasi: Pulih dari cedera mata serius di Piala Dunia 2022 untuk kembali membantu tim.

Kata Perpisahan

“Terima kasih untuk semua yang telah kau lakukan untuk kami, Sonny,” tulis Spurs di media sosial. “Kau akan selalu menjadi bagian dari keluarga kami.”

Bagi Son Heung-min, sepuluh tahun di Tottenham bukan hanya tentang gol dan assist, tapi tentang menciptakan hubungan abadi dan menjadi legenda yang benar-benar dikasihi. Aura “bintang rock”-nya mungkin akan pergi, tetapi kenangan dan rasa hormatnya akan tetap selamanya di London Utara. Dapatkan artikel menarik lainnya seputar sepak bola dengan mengunjungi situs https://www.strategibola.com

//Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *