fbpx
OPINI  

Covid-19 Ada dan Nyata

Dr.Murni, S.Pd.i, M.Pd. (Dok.Pribadi)

KABARANDALAN.COM – Penyebaran COVID-19 di seluruh dunia terus mengalami lonjakan yang signifikan. Dikutip Pikiran-Rakyat.com dari Worldometer, per Minggu 9 Agustus 2020 pukul 07.00 WIB terdapat penambahan kasus sebanyak 253.091 orang. Dengan begitu, akumulasi pasien positif corona dari 213 negara dan teritori mencapai 19.785.628 jiwa.

Dari jumlah tersebut, terdiri dari 729.484 orang meninggal dunia dan 12.719.181 pasien telah sembuh.Terdiri 4.634 pasien meninggal dunia 79.168 pasien sembuh dan terdapat 817 kasus aktif. Sementara itu, Indonesia berada di posisi 23 di atas China dengan 123.503 kasus.

Jumlah kematian 5.658 dan pasien dinyatakan sembuh 79.306 orang. Kini terdapat 38.539 kasus COVID-19 aktif atau yang dalam perawatan di Indonesia. Berdasarkan lingkup Asia, Indonesia berada di posisi ke-8 di atas China yang berada di posisi 9. Indonesia menjadi negara dengan kasus COVID-19 terbanyak di Asia Tenggara disusul Filipina dan Singapura.

Bagaimana dengan COVID-19 di Aceh? Menurut Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Aceh, Saifullah Abdulgani merilis prevalensi kasus COVID-19 di Aceh, berdasarkan laporan Gugus Tugas COVID-19 kabupaten/kota per tanggal 8 Agustus 2020 pukul 19.00 WIB jumlah kasus secara akumulatif mencapai 547 orang. Sebanyak 378 orang dalam penanganan tim medis di rumah sakit rujukan, 148 orang sudah sembuh dan, 21 orang meninggal dunia. (Serambi Indonesia/09 Agustus 2020).

Baca Juga:  Dandim Nagan Raya ajak Insan Pers Ikuti Lomba Karya Jurnalistik TMMD 108

Berdasarkan data-data dan keterangan yang telah di atas pandemi COVID-19 itu ada, ganas dan nyata bukan hasil rekayasa seperti asumsi sebahagian masyarakat. Hal ini dipertegas oleh Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Nasional dr.

Reisa Broto Asmoro saat konferensi pers di Media Center, Jakarta, pada Selasa 16 Juni 2020 bahwa virus Corona ini benar-benar ada. Ia mengatakan bahwa ilmuwan dari LBM Eijkman telah memetakan beberapa whole genome sequence (WGS) atau merinci identitas virus dari pasien yang ada di Indonesia. Data ini bermanfaat untuk penelitian lanjut untuk mengetahui epidemiologi virus, pengembangan vaksin dan juga obat antivirus.  Kepala Lembaga Eijkman Prof. Dr.

Amin Soebandrio, P.hD, SpMK (K) mengatakan dengan mengetahui virus yang beredar, kita juga bisa mendesain vaksin sesuai yang ada di Indonesia.  Yang penting sekali mengetahui status kesehatan masyarakat apakah positif atau negatif COVID-19. Apabila positif, maka penyembuhan dapat dilakukan dan, jika negatif, maka masyarakat harus semakin waspada melindungi diri dari penularan COVID-19 oleh orang lain.

Sejak WHO menetapkan COVID-19 sebagai pandemi pada 11 Maret 2020 lalu dapat masuk ke tubuh manusia melalui mukosa mata, hidung dan mulut. Virus ini menggandakan diri di dalam sel tubuh manusia, terutama di bagian saluran pernapasan bawah, seperti paru-paru. Virus COVID-19 mengganggu imunitas atau kekebalan tubuh, dan bagi mereka yang sudah memiliki penyakit penyerta, atau penyakit bawaan, seperti penyakit ginjal, diabetes, darah tinggi, akibatnya dapat menjadi fatal. 

Baca Juga:  Logo Ulang Tahun Kabupaten Nagan Raya Ke 21 Dinilai Norak, Diduga Tukang Desain Kahabisan Ide

Kita sebagai masyarakat Aceh sangat mengapresiasi kinerja Plt. Gubernur Aceh bapak Ir. Nova Iriansyah, MT sebagai kepala Daerah paling responsif dalam menangani COVID-19.

“Sejak awal kemunculan COVID-19 di Wuhan, Provinsi Hubei China. Bapak Plt Gubernur Aceh segera menginstruksikan seluruh jajarannya untuk mengambil langkah-langkah penangan yang tepat” kata Muhammad Iswanto (Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Aceh). Sehingga Aceh mendapat penghargaan ke-6 pemerintah terbaik dalam penanganan Covid-19 di Indonesia.

Ulama Karismatik Aceh sekaligus pimpinan Dayah MUDI Mesra di Kabupaten Bireuen, Aceh, Tgk. Hasanoel Bashry atau Abu Mudi (71 tahun) Alhamdulillah telah sembuh dari virus Corona setelah menjalani perawatan medis selama 9 hari.

Abu menyatakan bahwa Wabah COVID-19 ini nyata adanya. Apa yang Abu alami sejak hari pertama bukanlah sebuah rekayasa. Abu mengingatkan kepada masyarakat Aceh supaya tidak menganggap remeh atas keberadaan virus Corona ini. Abu mengaku mengikuti anjuran dokter yang disebut suatu ikhtiar terbaik yang harus dijalani ketika dinyatakan positif COVID-19. Usai pulih, Abu Mudi tetap harus mengisolasi mandiri selama dua pekan.

Baca Juga:  Pemuda Pancasila Nagan Raya Layangkan Protes Terhadap Perekrutan Tenaga Kerja Oleh Pt Mpg

Nah saatnya bagi seluruh lapisan masyarakat Aceh untuk bersatu padu memutuskan mata rantai penyebaran COVID-19 yang kian hari kian mengganas dengan beberapa langkah. Pertama, mengikuti anjuran penerapkan protokol kesehatan dari Pemerintah Aceh yang diteruskan hingga ke pemerintah kabupaten/kota adalah sangat penting untuk dilakukan setiap individu. Kedua, gunakanlah masker yang baik dan benar, bahkan menjadi wajib apabila di ruang publik.

Ketiga, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, atau dengan cairan pencuci tangan yang mengandung alkohol.  Keempat, social distancing. Saling menjaga jarak dengan orang lain. Percikan droplets atau air bisa mencapai jarak 1 sampai 2 meter, baik ketika seseorang berbicara, atau saat lawan bicaranya batuk, atau bersin.

Kalau misalnya batuk atau bersin, jaraknya bisa lebih jauh lagi bisa sampai 3 sampai 5 meter dan, Kelima, do’a dan harapan pada Allah Swt. Inilah yang menjadi senjata yang paling dahsyat bagi orang mukmin dalam menghadapi berbagai masalah, termasuk pandemi COVID-19, yang kasusnya masih terus meningkat di seluruh dunia. Wallahu a’lam bish-shawabi.
([email protected])

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *