fbpx
OPINI  

Aneksasi Tanah Kampus Darussalam

Oleh: Muhibuddin Hanafiah, Akademisi Darussalam
email: [email protected]

KABARANDALAN.COM, BANDA ACEH – Konflik kepemilikan tanah Kopelma Darussalam antara para pihak (Unsyiah dan UIN Ar-Raniry) masih belum kelar hingga hari ini. Klaim wilayah dan tapal batas tanah antara Unsyiah dan UIN Ar-Raniry khususnya di Kopelma Darussalam terus berlangsung hingga kini.

Beberapa tindakan sepihak yang didominasi oleh salah satu pihak nyaris menimbulkan gesekan fisik di level grassroot, yang dalam hal ini di level mahasiswa dari kedua almamater jantoeng hate rakyat Aceh ini. Belajar dari pengalaman kurang kondusif ini–di satu sisi dan keawaman mahasiswa yang kuliah di Darussalam khususnya di Unsyiah UIN Ar-Raniry dan Tgk Chiek Pante Kulu di sisi lain—tentang perihal sejarah Kopelma Darussalam, maka dipandang perlu agar mahasiswa baru tahun akademik 2020/2021 yang segera akan bergulir wajib mendapatkan penjelasan yang detail bila perlu perlu mata kuliah khusus tentang sejarah tanah Darussalam.

Hal ini dimaksudkan agar di kemudian hari mereka tidak “dikelabui” oleh almamaternya yang menyebabkan cek cok berkepanjangan antar generasi alumni Darussalam tentang hal ihwal status tanah Darussalam tersebut.

Percekcokan yang terjadi sekarang disinyalir disebabkan generasi yang paham tentang tanah Kopelma Darussalam telah banyak yang meninggal dunia, sementara yang terlibat dalam konflik sekarang sebagian besar adalah generasi yang “awam” tentang tanah Kopelma Darussalam, dan bahkan sebagiannya bukan alumni kampus Darussalam.

Oleh karena itu harus dipikirkan bagaimana caranya agar generasi (alumni) Kopelma Darussalam di masa hadapan tidak ada lagi yang mempersoalkan apalagi memperkarakan status kepemilikan tanah Kopelma Darussalam. Konon lagi sampai melakukan aneksasi (pencaplokan) sepihak atas beberapa wilayah Darussalam yang dianggap strategis dengan alasan pengembangan salah satu belahan jantung di satu pihak dengan mengeksploitasi belahan jantung di sebelahnya di pihak lain.

Mencermati kenyataan ini dan kekhawatiran dampak buruk yang berkepanjangan di masa hadapan, maka dipandang perlu kepada kedua belah pihak (Unsyiah dan UIN) untuk segera membekali mahasiswa baru tentang status tanah Kopelma Darussalam sesuai dengan sejarahnya yang benar dan sah.

Jalur Ghaza

Haruskah ada wilayah yang tegas dan terpisah dengan keharusan adanya tembok pembatas antara tanah yang dimiliki Univeritas Syiah Kuala dengan tanah sisa yang dimiliki UIN Ar-Raniry? Sehingga aneksasi (pencaplokan) harus berlangsung sepihak karena menganggap memiliki hegemoni kekuatan yang lebih kuat terhadap saudara kandung serumah yang dikira dalam kondisi lemah.

Jika aneksasi semacam ini secara serius dilakukan, maka kodrat yang sudah lama berlangsung dengan damai, sejuk, saling merangkul dan bekerja sama akan berubah menjadi permusuhan secara permanen dengan menyeret perkara kepemilikan tanah ke ranah hukum, ranah politik dan ranah konflik baru di Aceh.

Upaya sporadis salah satu pihak membangun tembok pemisah telah lama dimulai. Kini masuk ke tahap pemaksaan relokasi rumah dosen senior (pensiunan), asrama mahasiswa, bahkan mungkin rumah ibadah (mushalla). Kearifan yang dahulu terbangun atas kepemilikan bersama tanah tanpa sekat, apalagi tembok di tanah Darussalam tampaknya akan berakhir.

Apakah tanpa tembok Unsyaih tidak bisa membangun kampusnya dengan megah? Dan apakah tembok pemisah menjadi jaminan atas kemegahan kampus Unsyiah? Logika akal shalih yang bisa menjawab teka-teki ini.

Pengalaman baik dan patut dijadikan contoh sewaktu penulis belajar di luar negeri, dimana kami sebagai mahasiswa asing yang baru tiba dan hendak studi di universitas mereka, pelajaran pertama yang wajib diikuti adalah sejarah atau fakta objektif tentang kawasan dan institusi.

Konon lagi bagi mahasiswa setempat, materi tentang pengenalan sejarah kelahiran tanah air dan sejarah berdirinya universitas diberikan secara lebih detail dan komprehensif. Mungkin tujuan dari pengenalan ini bagi kami mahasiswa asing untuk tahu dan paham bahwa wilayah negara dan lembaga pendidikan tinggi di sini dibangun atas satu spirit yang besar untuk mendedikasikan ilmu pengetahuan kepada masyarakat manapun di belahan dunia ini tanpa diskriminasi.

Melalui pemahaman yang memadai terhadap eksistensi negeri dan universitas yang akan dijadikan tempat studi, diharapkan tumbuhnya keterbukaan, saling kesepahaman, persaudaraan dan kesungguhan dalam memanfaatkan moment belajar di tempat yang tepat dan kondusif. Kecurigaan dan rasa tidak saling percaya disebabkan belum ada pengenalan justru akan menjadi pengganggu di tengah perjalanan studi yang bakal dilalui.

Bisa dibayangkan jika kecurigaan ini tersalut antar civitas akademika, maka banyak dampak dan efek samping akan muncul dan mengganggu kepercayaan mereka kepada pimpinan universitas dan bahkan pemerintah setempat.

Memutus rantai konflik

Oleh sebab itu, pengalaman buruk yang sedang terjadi di kampus Darussalam ini hendaknya bisa segera diputus mata raintainya. Jangan sampai menular antar generasi di masa hadapan.

Bagaimana caranya? Menurut saya salah satu cara yang harus ditempuh adalah dengan memberikan fakta sejarah yang sebenarnya tentang tanah Kopelma Darussalam ini kepada mahasiswa baru tahun akademik 2020/2021 yang akan menjadi penghuni baru di dua kampus jantoeng hate masyarakat Aceh ini.

Jangan sampai potensi konflik yang sedang menunggu pencetusnya ini meledak tiba-tiba, lalu luka dan bara dendam tumbuh bersemi di dalam hati sanubari dari masing-masing mahasiswa dan alumni kedua kampus bersaudarakan satu ibu kandung ini. Soal teknis dan struktur kegiatan sebagai wadah bagi pemahaman yang serius, mendalam dan objektif tentang tanah dan air di wilayah Kopelma Darussalam kepada mahasiswa baru kita serahkan kepada pimpinan kampus untuk mensettingnya dengan baik dan seksama.

Kedua pimpinan kampus ini harus berangkat dari niat baik dan tulus ikhlas menyampaikan fakta yang sebenarnya kepada masing-masing mahasiswanya tentang wilayah kampus Darussalam ini. Ketulusan dan keikhlasan hati dan transparansi fakta sejarah yang dapat diuji objektivitasnya ini akan membuka hati dan melapangkan dada seluruh civitas akademika Darussalam di masa hadapan. Sehingga konflik saudara ini bisa dihentikan—atau tidak akan berlanjut– di kalangan generasi baru Darussalam.

Tidak akan lama lagi atau dalam waktu dekat ini, bangku kuliah di Kopelma Darussalam akan diisi oleh tunas sukma baru. Generasi baru kaum melinial, para anak muda bunga bangsa akan berstatus sebagai mahasiswa dan bersikukuh menjadi sarjana. Putra putri dari berbagai penjuru negeri akan berkompetisi meraih satu kursi dalam menempuh studi di Kopelma Darussalam. Akankah peristiwa ini akan menjadi preseden ahistoris bagi mereka dalam mengawali kancahnya di dunia akademis? Mereka langsung menyaksikan tontonan kurang etis yang bakal membekas bagai goresan kanvas seniman di dalam memori mereka.

Kelak mereka memiliki potensi yang sama gilanya untuk mengkondisikan tanah Darussalam ke pusaran kancah perang saudara yang tidak berkesudahan. Perilaku aneksasi ini menyisakan luka yang menganga dan menghujam sampai ke jantung hati semua elemen rakyat Aceh yang telah berkorban untuk menghadirkan sebuah kota pelajar Darussalam sebagai manifesto berakhirnya perang gerilya atas protes keras kaum republikan di bawah pimpinan Teungku Haji Muhammad Daud Beureu-euh terhadap pengkhianatan Presiden RI pertama Soekarno.

Rekonsialiasi elit

Apakah para pimpinan kampus Darussalam sekarang ini tidak malu pada peletak dasar, penggagas dan pendiri Darussalam di masa dahulu, atau pada rakyat Aceh yang telah berkorban? Hanya karena nafsu ingin menguasai sudut-sudut tanah di kampus Darussalam yang notabene diwariskan untuk memajukan pendidikan tinggi anak dan generasi rakyat Aceh, untuk membangun peradaban yang bertamaddun islami di bawah bingkai penegakan syari’at Islam.

Apakah konflik tanah harus dipertontonkan di lingkungan mimbar akademis, belum cukup konflik politik yang telah terjadi di masa lalu menjadi i’tibar bagi keterpurukan harkat dan martabat kemanusiaan dan keteringgalan rakyat Aceh dalam kecerdasan ilmu pengetahuan? Apakah belum terpahami juga bahwa lahirnya kopelma Darussalam justru untuk merajut masa depan rakyat Aceh dalam hidup yang lebih beradab dan mulia? Jika elit kampus masih mengedepankan nafsu serakah atas penguasaan kepemilikan petakan tanah, bukannya memperlihatkan sikap kompromi yang ramah dan santun antar sesama penerus Darussalam, maka pupus sudah harapan dan asa anak negeri ini yang mengimpikan kampus Darussalam bagai pusat peradaban rakyat Aceh yang kelak akan melahirkan generasi Syaikh Nuruddin Ar-Raniry, Syaikh Abdurrauf al-Sinkily, dan Teungku Syiek Pantekulu yang baru. Bila ini yang terjadi di kemudian hari, maka keberadaan dua kampus besar di era modern ini menjadi mimpi buruk bagi seluruh rakyat Aceh, duh!. (*)

(Redaksi/D)

Baca Juga:  Tingkatkan Kualitas Pemberitaan, Gubernur Aceh Ajak Media Perangi Hoaks dan Ujaran Kebencian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *